Dalam sebuah perjalanan, memiliki rekan dengan pemikiran dan ketertarikan yang sama itu penting. Namun memiliki rekan yang bisa menyesuaikan diri ternyata lebih penting lagi.

–Anida Dyah, Under the Southern Stars.

Hari ini 14 Februari , tanggal yang oleh banyak orang disebut sebagai Valentine’s Day, atau terkadang di Indonesia diterjemahkan dengan Hari Kasih Sayang. Kami, para anggota Travel Bloggers Indonesia tahun ini merayakannya dengan membuat suatu post-bar bertema khusus: #UltimateTravelmate.

Saya akan menulis tentang seorang perempuan, yang kurang lebih dalam 1.5 tahun terakhir sering sekali menjadi partner jalan-jalan saya; Rembulan Indira Soetrisno. Bersamanya, saya pernah main ke beberapa kota; Solo, Bandung, Cirebon, Penang, Semarang dan Jogjakarta. Dan semoga tidak ada halangan, beberapa bulan ke depan kami sedang merencanakan suatu perjalanan ke Sulawesi.

Sebelum #DuoGinuk
Perempuan Cengengesan

Kadang cengengesan – Kadang bijaksana

Gila, ini bocah memang se-animated timeline twitter-nya! Dalam hati saya membatin ketika bertemu Bulan untuk pertama kalinya. Meski sudah saling follow sejak lama di twitter, saya baru berjumpa dengan Bulan pada tanggal 4 Desember 2011. Saat saya dan beberapa teman lainnya yang sering jalan bareng dengan @picnicholic ngadain piknik di Kebun Raya Bogor.

Tak banyak orang yang gaya berbicaranya di social-media, sama dengan gaya bicaranya sehari-hari. Ada yang di twitter bisa sahut-sahutan ngobrol lancar, begitu ketemu ternyata pendiem, lebih suka menatap layar gawainya. Ada yang di facebook hobi share berita provokatif, ternyata pas ketemu ditanya pendapatnya tentang isu-isu terkini, pendapatnya hanya “ummm… ga tahu.”

Bulan, di twitter ia sering menambahkan ekspresi dibelakang tanda bintang semacam *grauut* untuk mengekspresikan rasa gemas pada seseorang. Kalau lagi ngobrol beneran, trus saya plin-plan nentuin pilihan, dia pasti bilang “Kakatete, graut niiihhhh….” sambil kedua tangannya mencakar gemas di udara depan muka saya.

#DuoGinuk di Semarang

Ga papa ga fokeus, yang penting selfie di pagi buta!

Dan yakinlah, jika ia memasang animated picture seorang perempuan yang menjatuhkan handphone dengan ekspresi “Omagah! I’m so done with you, stupid phone!”, ia pasti juga melakukan hal yang sama terhadap handphone-nya.

Jauh sebelum hestek #DuoGinuk, saya dan Bulan sudah berkawan akrab. Selain beberapa kali kami pergi jalan-jalan dengan beberapa teman lainnya, sehari-hari kami juga sering nongkrong bareng. Yaah, seperti persahabatan-persahabatan pada umumnya.

Kami ngomongin ide A-B-C, acara ini-anu-itu, perasaan pada si Mas, si Mamang, dan Si Abang. We talk about everything. Dan semakin saya mengenal Bulan, saya semakin tahu, bahwa ia jauh dari sekedar perempuan cengengesan yang sepertinya selalu terlihat luar biasa ceria.

#DuoGinuk; Perpaduan Spontanitas dan Kekonyolan

Saya memandang kesal setumpuk kertas yang baru saja diulurkan oleh teman kantor. Sepertinya baru 5 menit yang lalu setumpuk pekerjaan lainnya selesai, sekarang sudah datang lagi tumpukan yang tak kalah tinggi. Saya lelah, saya butuh liburan.

Tak harus liburan mewah, jauh, atau lama. Liburan di akhir pekan pun jadi.

“Buuuy, apakah tawaran menginap di condotel Bu Jenderal di grup tempo hari masih berlaku?” saya mengirim pesan lewat whatsapp.

“Masih, Kak… Yuk, yuk, kamu mau?”

“Mau banget. Kalau yang lain masih maju mudur, ya udah kita jalan berdua aja”

Liburan ke kota Solo di bulan Agustus 2014 itulah yang menjadi awal dari #DuoGinuk. Liburan yang sangat tidak ambisius; kami berdua mempunyai kecenderungan OCD yang hampir selalu membuat itinerary mendetail setiap perjalanan, untuk perjalanan kali ini target kami hanyalah; makan bubur gudeg ceker setibanya kami di Stasiun Solo Balapan.

#DuoGinuk di Keraton Solo

Asli ini ga janjian bajunya, tanpa sadar style-nya mirip!

Tanpa itinerary, namun kami berhasil main ke Pasar Gedhe; makan nasi liwet, minum dawet Bu Dermi, main ke Keraton, naik bus Werkudara, makan di angkringan sampai kekenyangan, ngos-ngosan naik turun perbukitan Candi Sukuh, Candi Cetho, dan Candi Kethek, menyantap nikmatnya Timlo Sastro, and did hundreds of selfies in our hotel room. Dalam sebuah liburan 2 hari akhir pekan saja.

Begitu banyak kekonyolan kami lalui saat liburan bersama. Mulai dari saya yang disangka hamil oleh petugas check in dan petugas boarding tapi kami berdua baru sadar tentang hal itu setelah beberapa lama kemudian. Beberapa kali drama hampir ketinggalan kereta di Stasiun Gambir. Oh, saya masih ingat sekali bagaimana Bulan dengan panik berteriak di telpon “Kakatete kamu di manaaaaaa???” dan saya berlari zig-zag di antara kerumunan orang di lorong pintu masuk bagian selatan Stasiun Gambir, sementara suara speaker di stasiun mengumumkan kereta kami akan segera berangkat.

Di lain waktu, Bulan yang hampir ketinggalan kereta ke Cirebon karena harus muter-muter Gambir akibat ada ruas jalan yang ditutup bagi pengendara motor. Saya yang gantian spanneng.

Tebak sepatu GinukCatu dan GinukDuwaa!

Tebak sepatu GinukCatu dan GinukDuwaa!

Saya sudah bilang kan kalau Bulan itu lebih dari sekedar perempuan cengengesan? Tak banyak detil mengenai itu yang saya bisa cerita tanpa membuka rahasia di antara kami. Tapi ada satu contoh yang saya bisa bagi; sebagai seorang pejalan, saya kagum dengan kepekaan insting, dan wisdom-nya. Saya sehari-hari bukan orang yang laid-back, sayangnya justru saat berada di tempat asing dalam rangka liburan, saya bisa jadi orang yang paling ga punya prasangka. Kalau di Jakarta orang berbuat baik secara random di jalanan, bisa saya kasih tatapan what-do-you-want-from-me?, saat liburan, karena terbawa suasana gembira, saya bisa menganggap semua orang di dunia ini baik hati.

Suatu malam waktu kami di Penang, dengan ketidak-penuh-prasangka-an saya, saya mengajak Bulan melewati suatu lorong yang gelap, ada beberapa pub lokal dengan lemari-lemari penuh botol bir dingin di depan bangunan pub itu. Belum lagi ada satu tanah kosong yang dipakai sebagai tempat penyimpanan mobil rongsok yang gelap gulita, dan ada beberapa pria yang sedang nongkrong di sana. Saya dengan santai melenggang, sementara Bulan diam-diam merasa ada yang tak beres dengan jalan yang saya pilih.

Benar saja. Di ujung lorong, seorang Polisi Diraja Malaysia menunggu kami dengan senter tersorot ke muka. Kejadian selanjutnya, silakan dibaca di sini.

But that night I was so glad having Bulan as my travel-mate. She didn’t blame me for taking her to that road, instead, we were laughing so hard about it.

Senyum dulu, ah!

Senyum dulu, ah!

Jadi, untuk Bulan #UltimateTravelmate ku yang selalu bisa selalu bisa kuajak [saling] menyesuaikan diri, here’s to another journeys ahead, cheers!

Senyum dulu, ah!

Untuk cerita tentang #TravelMate lainnya, silakan baca di sini: