Setelah nasi soto dan mendoan, bubur adalah makanan kesukaan saya nomor 3. Malah bisa dibilang bubur itu comfort food buat saya. Lagi bad mood, lagi ga napsu makan, lagi sakit, trus dikasih makan semangkuk bubur, dijamin saya akan langsung merasa jauh lebih baik. And suddenly, life makes sense again, kalau mengutip kata waralaba pretzel Bibi Anne.

Hampir semua jenis bubur saya suka. Sebut saja; bubur ayam, bubur sumsum, bubur kacang hijau, bubur ketan hitam, bubur gudeg, bubur a la tiongkok, bubur opor, bahkan bubur makanan bayi instant aja saya suka. Saking sukanya sama bubur, kadang kalau lagi jalan-jalan saya suka iseng berburu bubur. Tapi ya ga tiap ngetrip dipaksain harus ketemu bubur, ‘kan kadang kalau jalan-jalannya berbanyakan, jadwalnya agak susah untuk misah dari rombongan.

Nah berikut ini ada beberapa hasil berburu bubur di beberapa kota. Nulisnya ga saya urutin berdasarkan pola tertentu ya, seingetnya aja. Dan memang masing-masing bubur juga beda jenis, jadi agak susah untuk me-ranking bubur-bubur ini.

1. Bubur Ceker Margoyudan – Solo

Mungkin saya termasuk sedikit dari Wong Jowo asli yang ga suka gudeg. Tapi untuk bubur ceker Margoyudan ini saya bersedia membuat pengecualian. Sepiring bubur panas dengan beberapa buah ceker yang dimasak bersama gudeg Solo. Disantap selepas Subuh pas baru turun dari kereta. Sedap! Kami beruntung masih kebagian bubur ceker, karena biasanya Bubur Ceker Mergoyudan sudah habis menjelang pukul 05.00 pagi.

Bubur Margoyudan

Bubur Gudeg Ceker & Nasi Gudeg Ceker

Jika kamu tertarik untuk mencicipi bubur ceker ini, silakan datang ke Jl Wolter Monginsidi, Margoyudan, Solo, tepatnya di seberang SMAN 1 Solo. Jam buka warungnya sedikit unik, yaitu antara pukul 01.00 hingga 07.00 pagi, namun jangan terlalu kesiangan ya datangnya. Biasanya sekitar jam 05.00 persediaan ceker mulai menipis. Selain ceker, ada pilihan topping lainnya; paha, sayap, kepala ayam, sambel goreng krecek, tahu, tempe bacem, dll. Dijamin puas!

2. Bubur Moh. Toha – Cirebon

Warung bubur ini tidak hanya hanya menjual bubur ayam saja, tapi juga bubur kacang hijau, bubur ketan hitam, dan telur setengah matang. Tampilan warungnya dari luar mirip warung-warung bubur milik orang Kuningan yang ada di Jakarta. Warungnya kecil, tapi hampir selalu ramai. Waktu saya makan di sana, hampir tidak pernah ada bangku yang sampai kosong. Satu rombongan pergi, digantikan oleh rombongan lain, begitu terus.

Bubur Ayam Moh Toha, Cirebon

Bubur Ayam Moh Toha, Cirebon

Di warung yang terletak di Jl Moh Toha (pertigaan Jl Siliwangi, Cirebon – seberang hotel Amaris) ini, saya nyobain bubur ayam dan bubur ketan hitam. Sementara Bulan nyobain bubur ayam dan telur setengah mateng (2 bijik!). Buat saya sih bubur ayamnya ga terlalu istimewa ya… hanya saja bubur ayamnya punya keunikan; disajikan dengan semacam asinan wortel. Asem-asem agak asin gitu rasanya.

3. Bubur Kwang Tung – Jakarta

Ini bubur a la Tiongkok favorit saya! Dulu kalau mau menikmati bubur ini harus jauh-jauh ke Pecenongan (dari tempat tinggal saya di Cilandak, ini terhitung jauh banget ya…). Untungnya, sekarang Bubur Kwang Tung sudah ada cabang di Jl Wolter Monginsidi, lumayan dekatlah jaraknya dari Cilandak. Jujur, saya sih lebih suka makan di cabang Wolter, alasannya; selain lebih dekat, gerainya juga jauh lebih modern dan bersih dibandingkan yang di Pecenongan, pelayannya jauh lebih ramah, dan antriannya ga terlalu parah.

Bubur Kwang Tung Pecenongan

Bubur Kwang Tung Pecenongan

Kalau makan di bubur Kwang Tung, biasanya begini settingan saya: bubur kepiting, cakwe, telur asin. Beeuhh, mantap! Kalau doyan, tambahkan juga telur pitan, seperti pesanan temen saya itu. Saya sih ga doyan telur pitan, hehe..

4. Bubur Odeon – Sukabumi

Ini bubur ayam yang saya bela-belain sampai naik kereta ke Sukabumi, dan disambung jalan kaki dari stasiun kereta, lewat pasar, menelusuri Pecinan di Jl Pejagalan, hingga akhirnya ketemu dengan warung bubur ayam legendaris ini.

Bubur Odeon, Sukabumi

Bubur Odeon, Sukabumi

Bubur ayam Odeon ini unik banget jika dibandingkan dengan bubur ayam yang biasa dijual di kota-kota lain. Semangkuk bubur panas disajikan dengan kuah kecap asin encer, lalu diberi topping bawang goreng dan cincangan daun seledri, juga semacam pangsit goreng berbentuk kecil-kecil. Pelengkap lain yang disajikan; sepiring kecil asinan sayur sawi hijau. Nah, ayamnya juga unik, nih! Kalau bubur ayam biasa kan ayamnya digoreng terus disuir-suir, bubur ayam Odeon ini beda… Ayamnya direbus mirip ayam hainan gitu, trus dipotong agak chunky, dan disajikan dalam piring terpisah.

5. Bubur Ayam Mang Oyo – Bandung

Pertama kali kenal dengan bubur ayam kebanggaan warga Bandung ini pas jaman kuliah, sekitar tahun 2001. Udah ga nyobain makan di tempat jualan aslinya sih… waktu itu makan di cabang yang ada di sebuah taman antara Jl Dipati Ukur, yang nembus ke Bank Mandiri Surapati, duh saya lupa nama jalannya. Dari pertama kali nyoba, saya langsung suka dengan bubur ayam Mang Oyo. Yang bikin saya suka adalah bubur bikinan mang Oyo itu kental, tapi halus, ga banyak butiran nasinya. Trus setiap order bisa bebas pesan topping-nya mau diisi apa aja.

Bubur Ayam Mang Oyo

Bubur Ayam Mang Oyo

Tiga belas tahun kemudian, nostalgia menikmati sepiring bubur ayam Mang Oyo lagi. Kali ini saya nyobain di cabang yang depan Hard Rock FM, Bandung. Rasanya tetep sama, lho!

Gimana? Setuju kan kalau semangkuk bubur bisa jadi sangat menghibur hati?