Cimahi, 27 Mei 2006 | 07.30 pagi

Malas-malasan saya menyibak selimut tebal yang membungkus tubuh, dan menghampiri telpon rumah yang tak berhenti berdering dari semenit yang lalu. Sudah hampir 2 minggu saya tinggal sendirian di rumah. Mama Wied (budhe saya, yang rumahnya saya tumpangi selama kuliah) sedang menginap di rumah anaknya di Jakarta.

“Arrrrgh.. ini pasti Budhe Sadimin nelpon nyuruh ngambil sarapan deh!” batin saya sambil terhuyung-huyung ke meja telpon.

“Halo…”

“Dek…” Mama Wied rupanya yang telpon. “Klaten gempa.. rumah Mbah Putri ga kenapa-kenapa, tapi kayanya rumah Mbah mu kidul ambruk. Tadi Mas Sapto nelpon ke Mama Suster, minta tolong kalau susteran Klaten punya stok obat-obatan….”

Masih dengan kesadaran yang belum pulih benar, saya berusaha mencerna rentetan informasi dari suara di ujung sana. Klaten gempa. Mbah Putri (ibunya mama saya) baik-baik saja. Rumah Mbah Kidul (orangtua papa saya) ambruk. Mas Sapto (om saya, adik bungsu papa) minta bantuan obat-obatan ke susteran… bla,bla,bla.. Duh, kalau sampai minta bantuan obat-obatan, pasti ada yang terluka. Airmata mulai ngembeng di pelupuk.

“Ok, Ma.. aku telpon papa”

Buru-buru saya nyari remote TV, sambil mencoba menghubungi nomor ayah saya lewat HP. Nomornya sibuk. Saya coba nomor adik saya, tersambung.

“Iya, ini kita semua bentar lagi mau berangkat ke Klaten (dari Cikarang)” jawab Argo.

Di TV mulai nampak menyiarkan video amatir kiriman warga ketika gempa 5.9 skala Richter mengguncang kota Jogjakarta, Klaten dan sekitarnya pagi tadi. Dengkul saya lemas. Bisa jadi rumah Simbah saya juga rata seperti itu. Meski saya tahu mereka selamat tanpa luka-luka, tapi mereka tidur di mana malam nanti?

Empat hari lagi acara wisuda saya. Saya sudah menanti-nantikan hari itu, lebih-lebih 6 bulan terakhir. Namun pagi itu saya justru ingin berada di tempat lain, di kota kelahiran saya, Klaten, bersama tiga orang simbah saya.

Prambanan, 01 Maret 2015 | 10.00 pagi

Rumah Teletubbies - Dusun Nglepen, Prambanan

Rumah Teletubbies – Dusun Nglepen, Prambanan

Tentang rumah berbentuk menyerupai kubah (dome) itu sudah saya dengar sejak lama. Tak lama berselang setelah kejadian gempa bumi yang hampir meratakan desa kakek-nenek saya, 9 tahun lalu. Orang banyak menyebutnya dengan rumah teletubbies – empat boneka aneka warna yang dikisahkan hidup dalam rumah-rumah kubah di bawah hamparan rumput. Kompleks perumahan dome di Dusun Nglepen, Prambanan, Jogjakarta ini pembangunannya digagas oleh LSM asing; World Association of Non-Governmental Organization dan Domes for the World Foundation. Konon, biaya pembangunannya didanai oleh satu orang donatur tunggal asal Dubai. Perumahan ini dibangun sebagai tempat relokasi warga Dusun Sengir, sebuah dusun yang terletak di perbukitan tidak jauh dari lokasi kompleks rumah dome saat ini, yang saat gempa tahun 2006 tanahnya ambles dan mengubur dusun tersebut.

On his bike, just like my late Mbah Kakung...

On his bike, just like my late Mbah Kakung…

Pagi hari itu, suasana di komplek perumahan dome itu tak jauh beda dengan suasana desa di kampung simbah saya; Desa Kadilanggon, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten. Gerimis yang baru saja berhenti turun menyisakan basah di jalanan aspal desa. Di tengah kampung, anak kecil berlarian sambil bermain ciprat-cipratan genangan air hujan. Ibu-ibu sibuk di dapur, sebagian ada pula yang mencuci piring dan pakaian di sebuah dome yang berfungsi sebagai tempat MCK komunal. Seorang kakek mengendarai sepeda kumbang dengan seikat rumput yang basah oleh sisa gerimis. Ia mengayuh pelan sepeda kumbangnya, menyeimbangkan badannya dari angin yang berhembus dari sela-sela tanaman tebu di sawah pinggir kampung. Ada rasa haru mengalir di dada saya. Apa yang dilakukan kakek itu mirip sekali dengan aktifitas Mbah Kakung saya ketika masih sugeng*; pulang dari sawah membawa seikat besar rumput untuk makanan sapi, biasanya jam 10 pagi, tidak beda jauh waktunya dengan jam pulang Mbah Putri dari berjualan tempe. Mungkin juga kakek bersepeda itu juga akan melakukan hal sama dengan Mbah Kakung sepulang dari sawah: menyandarkan sepeda tuanya disamping kandang sapinya, membuka ikatan rumput dan menaruhnya di bak kayu tempat makanan sapi sambil bermonolog tentang semakin sulitnya mendapatkan suket kalandana* akhir-akhir ini, mengakhiri monolog dengan permintaan pada sapi piaraannya satu-satunya untuk tidak menginjak-injak rumput yang sudah susah payah ia sabit, lalu beranjak masuk ke rumah dan menikmati teh ginastel* serta sepiring kue oleh-oleh Mbah Putri dari pasar.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Rumah dome bisa saja rumah yang jauh berbeda dengan konstruksi rumah pada umumnya di kampung saya, bahkan mungkin di Indonesia. Namun selama sekitar 2 jam saya main ke dusun itu, saya tidak merasakan perbedaan suasana dengan kampung-kampung di Klaten ataupun Jogja pada umumnya. Ah, tapi bisa jadi 2 jam terlalu singkat untuk menyimpulkan, bukan? Jika punya waktu lebih, sempatkanlah untuk menginap di Dusun Nglepen. Merasakan apakah betul ada bedanya hidup di rumah berbentuk kubah, bersama masyarakat yang dipindahkan dari tempat asalnya dan menempati rumah baru nan unik. Dua jam yang saya habiskan di sana bahkan tidak cukup untuk mencoba naik ke atas bukit dan memandangi hamparan kompleks rumah dome yang menurut pengelola Karang Taruna setempat mirip dengan sekumpulan telur angsa yang tergeletak di lapangan hijau.

Jakarta, 27 Mei 2015 | 06.15

Hari ini, genap 9 tahun peringatan gempa bumi hebat yang meluluhlantakkan kampung halaman saya, Klaten. Desa tempat kelahiran  papa, Kadilanggon, termasuk salah satu desa dengan kerusakan terparah di Kabupaten Klaten. Dua kecamatan dengan kerusakan terparah adalah Kecamatan Wedi dan Kecamatan Gantiwarno, dan desa kakek saya letaknya diantara 2 kecamatan tersebut. Hari ini saya akan ceritakan apa yang terjadi dengan keluarga saya di kampung, 9 tahun yang lalu…

Pernahkah kamu mendengar ungkapan “sesial-sialnya orang Jawa, mereka pasti masih akan berkata ‘untungnya…’?”

Jika belum, saya akan mengatakannya sekarang.

Untungnya, saat gempa besar itu terjadi, tiga orang penghuni rumah simbah sudah bangun dari tidur dan beraktifitas seperti biasa. Bisakah kamu bayangkan jika 2 orang lanjut usia dan seorang perempuan setengah baya masih tidur ketika terjadi gempa? Pagi itu, mbokdhe (kakak perempuan ayah saya) sudah pergi ke pasar untuk berdagang. Mbah Kakung, sedang berdiri di depan televisi untuk mengganti channel ketika ia merasakan bumi bergemuruh. Ia sempat bingung mau lari kemana, keluar rumah atau ke rumah bagian belakang, tempat Mbah Putri sedang masak sarapan di dapur. Ditengah kebingunan itu, untungnya lagi, tembok rumah yang paling cepat roboh adalah tembok sisi timur rumah, yang langsung memberikan akses untuk kakek saya berlari menuju kebun dan sawah di samping rumah.

Mbah Putri sedang di dapur, ia berjongkok sambil menggoreng telur di keren*. Di sisi kirinya ada meja besar tempat menaruh segala macam bumbu dan meracik sayuran yang akan dimasak, di sisi kanannya ada barisan 6 tungku besar dengan 6 panci besar tempat rebusan kacang kedelai mbokdhe. Meja dan barisan panci itu menjadi segitiga pengaman yang sempurna untuk badan mungil Mbah Putri ketika atap dapur roboh. Mbah Putri meragkak keluar dari bawah atap dapur dan lari menyusul Mbah Kakung di sawah sebelah rumah.

Mbokdhe baru saja menurunkan tenggok dari gendongannya dan tiba-tiba tanah yang ia pijak bergerak membentuk gelombang naik turun.

“Yeemmm, lindu kok gedhe ne koyo ngene.. wis kowe mulih o dhisik kono, dheloken kahanan ngomah. Aku tak sing ngrumati dagangan…” Mbah Parto, istri dari adik Mbah Kakung yang juga berjualan di pasar yang sama menyuruh Mbokdhe untuk pulang.

[Yeeem, gempa kok besarnya seperti ini… sudah, kamu pulang duluan sana, lihat keadaan rumah. Aku nanti yang ngurusi dagangan…]

Dengan air mata berlinang, mbokdhe pulang. Tanggul sungai di sebelah selatan desa yang setiap hari dilalui perempuan-perempuan desa untuk pergi ke pasar keadaannya mengerikan; sebagian ada yang longsor ke sungai irigasi di sisi kiri, ada yang longsor ke sungai besar di sisi kanan, ada juga bagian yang terbelah memanjang di tengah, menyisakan bagian yang rapuh untuk dipijak di sisi kanan dan kiri.

Sementara itu, Mbah Putri saya yang satu lagi (ibu dari mama) saat itu tinggal seorang diri di kota Klaten, sekitar 15 km jauhnya dari desa keluarga ayah saya. Beliau tinggal di sebuah rumah peninggalan jaman Belanda, rumah dengan tembok yang jauh lebih tebal dibandingkan rumah jaman sekarang. Pagi itu, ia sedang duduk di tepi tempat tidur, menggulung stagen*, bersiap-siap akan mandi. Ketika merasakan ada gempa, ia mencoba berdiri dan melangkah namun kembali jatuh terduduk di tepian kasur. Entah apa yang terjadi jika tembok tebal di belakangnya runtuh.

“Yo wis, aku pasrah… aku mung gek ndang golek rosario ning ngisor bantal trus ndonga…”

[Ya sudah, saya pasrah.. saya segera mengambil rosario dari bawah bantal dan berdoa…]

Sembilan tahun berlalu. Rumah simbah di Kadilanggon yang dulunya adalah sebuah rumah limasan besar dengan 3 cungkup, sudah dibangun ulang jadi 3 rumah yang berukuran lebih kecil. Banyak tanah di kampung itu yang awalnya masih berstatus milik orangtua, setelah gempa sekalian dibagi jadi warisan untuk anak-anak, tak terkecuali tanah Mbah Kakung. Saya teringat ucapan Mbah Kakung ketika panen kacang tanah tidak lama setelah kejadian gempa itu…

“Lindu ki ojo digetuni. Ki dheloken, bar lindu panene kacang apik tho.. lemah njeron weteng bumi diwalik Gusti Allah ben subur…”

[Gempa itu jangan disesali. Ini lihatlah, sehabis gempa panen kacang kita bagus ‘kan? Tanah di dalam perut bumi dibalik oleh Tuhan agar jadi subur kembali…]

Entahlah, apakah teori ngawur simbah saya itu benar, ataukah hanya kebetulan saja panen kacang kala itu bagus. Yang pasti, tinggal di Indonesia itu harus akrab dengan gempa bumi.

Footnote:

Suket Kalandana: rumput panjang sejenis tumbuhan tebu, namun tanpa batang keras.

Ginastel: singkatan dari legi, panas, kenthel (manis, panas, kental), teh favorit orang Jawa pada umumnya.

Sugeng: masih hidup dan sehat

Keren: tungku kecil terbuat dari tanah liat / gerabah, tidak diucapkan seperti “keren” pada Bahasa Indonesia.

Tenggok: bakul, wadah dari ayaman bambu yang biasa digendong perempuan Jawa ke pasar.

Stagen: kain kecil panjang yang digunakan sebagai ikat pinggang perempuan saat memakai kain.