Terlahir di Klaten sebagai perempuan Jawa dan  menghabiskan masa remaja juga di kota kecil itu, ada satu sisi dalam diri saya yang selalu sentimentil setiap kali main pasar tradisional. Seperti halnya Carrie Bradshaw pernah bilang “you can take the girl out of the city, but you can’t take the city out of the girl”, rasanya akan tetap ada satu sisi ‘gadis kampung’ dalam diri saya. Gadis kampung yang memekik kegirangan (dalam hati sih memekiknya, takut orang sepasar nyangka saya gila) ketika menemukan mbokde penjual jenang grendul di satu sudut Pasar Prawirotaman.

Malam hari sebelumnya di Gallery Prawirotaman Hotel (Direct Reservation: +62 274 4580008) saya whatsapp-an dengan sahabat saya, Bulan, seorang putri asli Jogja yang mbah-nya berumah di Jl Prawirotaman. Bulan bilang “Kktt, kamu besok pagi musti ke pasar yang di ujung jalan itu!” Tentu saja saya mengiyakan sarannya. Pagi hari sebelum sarapan di hotel, saya sudah jalan ke pasar. Jalan Prawirotaman yang terkenal sebagai kawasan hotel di kalangan turis backpacker mancanegara masih sepi. Sepanjang Jalan Prawirotaman II tempat hotel saya berada, hanya ada beberapa Pak Becak yang mangkal dan menawarkan jasanya. Beberapa pegawai penginapan-penginapan kecil sedang menyapu halaman. Mendekati pertigaan Jl Prawirotaman II dengan Jl Parangtritis, saya mulai melihat keramaian khas pasar tradisional di tanah Jawa Tengah (termasuk Jogja); sepeda onthel dengan bronjong (keranjang bambu yang ditaruh di boncengan sepeda) yang terpakir rapi, dengan beberapa ibu-ibu menata hasil belanjaan agar seimbang. Beberapa sambil bercakap-cakap tentang kenaikan harga barang belanjaan, sebagian memperbincangkan tentang hasil tes anak mereka yang duduk di bangku SMP.

Petualangan di Pasar Prawirotaman kami mulai dari sisi pasar yang di Jalan Parangtritis. Aneka penjual sarapan khas Jogja ada di sana, dari nasi gudeg sampai capcay goreng dan mie goreng. Dari nasi pecel sampai tukang gorengan. Saya masih menahan napsu untuk membeli apapun karena masih teguh pada niat awal: harus ketemu penjual jenang grendul. Malah KakNyanyu yang pertama dapat yang dia idam-idamkan: buah srikaya. Buah yang sekarang sudah langka, apalagi di Jakarta. Tanpa ampun dia membeli 2 kilogram srikaya, dari seorang simbah tua yang baru saja menata dagangan buahnya.

tangan Renta Yang Menimbang 2 Kilogram Srikaya

tangan Renta Yang Menimbang 2 Kilogram Srikaya

Masuk ke dalam pasar, saya ketemu penjual ketan bubuk; perpaduan antara ketan yang berbentuk seperti nasi dengan ketan yang dimasak seperti lontong (semacam lamang di Padang), lalu diberi bubuk tumbukan kedelai sangrai, diberi sentuhan akhir kucuran larutan gula jawa super kental. Sebungkus hanya dihargai IDR 3.000 saja. Kalau mau versi yang lebih kecil bungkusannya, cukup mengeluarkan IDR 2.000. Uang segitu masih bisa dapat makanan enak di Jogja, sementara di Jakarta? Naik kopaja 2 kilometer aja ga boleh bayar segitu.

Pasar Prawirotaman

Ketan Bubuk; IDR 3000 kenyang sampai siang!

Selesai membayar ketan pesanan saya, di pojok dekat pintu masuk yang tadi saya lewati, saya melihat Simbah penjual jenang yang saya cari-cari! Cepat-cepat saya menghampiri penjual jenang itu, dan memesan sebungkus jenang grendul seharga IDR 2.000. Dalam bahasa Jawa jenang adalah kata yang umum untuk menyebut bubur dan dodol. Tinggal kata yang mengikutinya saja yang menerangkan makanan apa yang dimaksud, misalnya; jenang sumsum, jenang grendul (semacam jenang sumsum tapi dengan butiran bulat seperti biji salak), jenang ayu untuk dodol jawa, jenang krasikan (seperti jenang ayu tapi dengan butiran menir ketan halus).

Menghabiskan IDR 5.000 untuk 2 jenis sarapan pagi itu, saya merasa bahagia sekali! Lagi-lagi saya membandingkan dengan apa yang saya beli dengan uang segitu di Jakarta. Ah, ya jangan dibandingkan lah!

Sego Gudhang, Ga Sempet Nyobain Ini :(

Sego Gudhang, Ga Sempet Nyobain Ini 🙁

“Kak, kenapa ya ini pasar kok yang jualan kebanyakan orang-orang tua ya? Anak-anak mudanya pada kemana?” tanya KakNyanyu memecah lamunan kebahagiaan dengan sarapan limaribu rupiah.

“Anak mudanya ya kebanyakan pergi merantau, Kak… Atau memilih jadi penjaga toko di mall, mungkin…” saya tahu saya di sini terlalu menghakimi.

Almarhumah Mbah Putri (yang dari Mama) dulu adalah pedagang batik di Pasar Klewer, tidak ada satu anaknya pun yang mewarisi usahanya. Mbah Putri (dari Papa) adalah generasi ketiga pengrajin tempe, saat ini sudah berhenti berdagang, masih ada mbokde saya yang meneruskan usahanya, tapi setelah mbokde, tidak ada lagi yang melanjutkan.

Akankah suatu saat nanti tidak akan ada lagi penjual jenang di pasar?

Jenang Grendul

The Most Anticipated: Jenang Grendrul!