Hayoooo.. siapa yang masih sahabatan sama temen-temen SMA-nya?

Buat yang baru lulus SMA beberapa tahun yang lalu, saya yakin masih banyak yang tunjuk tangan, tapi untuk orang-orang seangkatan saya, yang menghabiskan tahun terakhir di SMA pada awal millenium baru, saya yakin udah banyak yang kehilangan kontak dengan teman jaman putih abu-abu.

Saya menyelesaikan SMA di sebuah sekolah negeri di Kabupaten Klaten. Konon sekolah saya ini salah satu sekolah unggulan di Jawa Tengah, pada masa itu. Saya yakin itu berkat temen-temen saya pinternya ngedap-edapi [arti harfiah: keterlaluan], yang ditahun 2001 dengan gampangnya bisa lulus UMPTN dan keterima di UGM, UI, ITB, ITS, STAN dan kampus-kampus ternama lainnya. Saya yang pas pendaftaran masuk SMA NEM-nya ada di ranking 90 (dari bawah tentu saja) hanyalah “butiran anak IPS” di sekolah itu, keterima di Manajemen UNPAD juga lebih karena bejo [beruntung] dibanding karena pinter beneran.

Masih ingat jelas, ini 2001, beberapa hari setelah selesai Ebtanas, mau pikinik ke Pangandaran

Masih ingat jelas, ini 2001, beberapa hari setelah selesai Ebtanas, mau pikinik ke Pangandaran

Dari tahun 2001 itu, bisa dibilang saya salah satu alumni SMA 1 Klaten yang jarang ketemuan langsung dengan teman-teman seangkatan. Lha gimana, wong saya jarang ke Klaten lagi (cuma mudik setahun sekali ke rumah simbah), trus cuma ada satu orang temen seangkatan yang sama-sama keterima di UNPAD, itupun beda kampus (saya di Dipati Ukur, teman saya di Jatinangor). Kan banyak yang keterima di ITB? Ga main bareng di Kota Bandung? Hihi, mungkin sebenernya masalah ketidak-keep in touch-an saya dengan sesama alumni SMA 1 Klaten adalah ya karena saya ndak gaul.

Thanks to technology and social-media, setelah lulus kuliah dan bekerja di ibukota, bisa terhubung dengan teman lama bukan lagi perkara yang mustahil. Meskipun bukan tipe pertemanan yang sekian hari sekali ketemu lalu hang-out di mall, paling tidak kami tahu kabar si A, B, C, X, Y, Z…

Hingga akhirnya suatu hari Deta, teman sekelas saya waktu kelas 1 dan 2 SMA, ngajak untuk liburan bareng. Kemana aja yang murah meriah dan bisa cuma akhir pekan saja. Saya usulkan untuk ke Situgunung, Sukabumi. (Yes, God knows how I love this place)Deta akhirnya ngajak Santi & Kenot, teman kami lainnya. Empat teman sekelas kala SMA pergi liburan ke Sukabumi.

Ga, saya ga akan cerita tentang Situgunung lagi. Udah banyak saya nulis tentang tempat ini. Kali ini saya cuma mau cerita tentang kenangan 14 tahun lalu, kisah-kisah inspiratif dari teman-teman lain yang membuat saya berpikir “Gile, Ti! Ternyata selama ini lo manja banget sama orangtua lo!”, sampai mimpi-mimpi kami, 4 perempuan Jawa di tengah belantara beton ibukota.

Siapa yang ga pernah bandel jaman SMA? Ih, ga seru banget sih!

Malam itu di Villa Cemara perut saya dibuat kaku oleh cerita jaman SMA dari Deta, Santi dan Kenot. Tentang seorang teman yang habis bolos dari kantin, lalu masuk kelas dan diikuti seekor kambing milik Pak Penjaga Sekolah. Tentang Kenot dan Santi yang ‘terjebak’ satu tahun di kelas 3 yang sangat kompetitif, isinya anak pinter semua, ga ada bandel, ga ada yang becanda, namun berhasil mencetak 5 (LIMA) dokter dari kelas itu. Tentang ritual rebutan tempat duduk setiap hari Senin yang membuat saya harus berangkat sekolah bareng Mbah Putri yang mau misa pagi jam 04.30 (padahal jam belajar baru akan dimulai jam 06.45), dan ritual ini pula yang membuat Deta pernah diteriaki “maliiiiing” oleh penjaga sekolah. Tentang teman sekelas Deta yang klelegen [ga sengaja menelan] duri ikan bandeng pas makan sego kucing di tengah jam pelajaran.

Tentang Deta yang bercerita ada teman seangkatan kami yang pergi ke Jakarta begitu lulus SMA, bekerja sebagai tenaga admin dari pagi sampai sore, kuliah di malam hari, meniti karier benar-benar dari 0, hingga akhirnya saat ini menduduki jabatan sebagai Vice President di perusahaan garmen asal Korea. Lalu ada lagi seorang teman kami yang pergi merantau ke Jakarta selepas SMA, jadi SPG sebuah produk pembalut wanita. Sambil kuliah di malam hari, tentu saja. Waktu berlalu, kini teman kami itu sudah jadi Product Manager dari produk yang dulu ia tawarkan dari satu pengunjung supermarket ke pengunjung lainnya. Kenot pun menceritakan seorang teman laki-laki yang merantau berbekal cincin neneknya, jadi office boy bergaji setengah dari uang saku saya sebulan saat kuliah di Bandung, lalu berbekal kepintarannya, ia bisa jadi guru di sebuah bimbingan belajar masuk universitas. Anak laki-laki itu malah sempat ngasih kerjaan untuk Kenot diawal Kenot lulus kuliah dan belum dapat kerjaan.

Empat belas tahun berlalu, kami bukan lagi anak SMA berseragam putih abu-abu. Deta, si maskot jaman SMA, sekarang seorang pegawai IT di perusahaan produsen mie instan terbesar di Indonesia. Kenot, seorang wartawati di sebuah harian dan majalah terkemuka di Indonesia. Santi, PNS lulusan STAN yang pernah mengecap pendidikan pasca-sarjana di Negeri Sakura. Saya? Masih tetap Mbak-mbak Kantoran dengan cuti terbatas yang suka haha-hihi dan main ke sana kemari.

Situ Gunung

Rasanya baru kemarin lulus SMA, ternyata sudah 14 tahun!

Ya…. terkadang jalan-jalan itu bukan tentang kemana kita pergi, tapi dengan siapa kita berbagi perjalanan. Terimakasih, Teman Masa SMA!